Aku sejenak memejamkan mata untuk sesaat membayangkan musik tak lagi menjadi teman dalam mengisi keseharianku. Kosong, sepi dan sepertinya akan gila apalagi saat ini biola menjadi teman akrabku dalam keadaan rusak di sudut ruangan gelap. Bagi Yudi Rahmat ( 65 ) pria yang akrab di sapa abah initak rela biolanya termenung tak berdaya di pojok ruangan gelap. Musik memberikan irama keindahan tersendiri bagi sebuah kehidupan, alunannya terdengar merdu dan menyentuh nada-nada sisi kehidupan ini sehingga berwarna menghiasi langit-langit sisi kehidupannya. Baginya biola adalah gairah hidup untuk mengekspresikan diri dalam bermusik, tapi tak menutup kemungkinan abah menyukai alat musik lainnya.
Musik
menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dari abah, dari sejak kecil abah
menyukai musik, semua alat musik sangat disukainya, khususnya biola yang
menjadi primadonanya dalam bermusik. Ketika itu abah membayangkan bisa
menciptakan alat musik sendiri dan keinginan abah pun
tercapai, berawal dari ketika biolanya itu rusak. Ide membuat biola sendiri
dari bambu terinspirasi dari banyaknya bambu di halaman rumahnya yang tidak
terpakai dan tergeletak begitu saja tanpa ada manfaatnya. Akhirnya abah
berhasil membuat biola pertamanya dari bambu itupun membutuhkan waktu kurang
lebih satu tahun untuk membuat biola bambu yang sesuai dengan keinginannya.
Proses
pembuatan biola bambu ini berbeda dengan biola modern pada umumnya, disini
pembuatan cukup sulit dari mulai pemilihan bambu, proses pengeringan, penipisan
dan sampai finish. Dalam proses pengeringan membutu hkan waktu dan tidak bisa
terkena cahaya matahati langsung karena bambu bisa mengecil adapun waktu yang
bisa hanya bisa terkena matahari sampai 10.00 pagi.“ Memang agak sulit
membuatnya, sulitnya itu dari penipisan karena biasanya kalau orang belum
paham, suka terlalu tipis nanti cepat pecah.” jelasnya.
Biola bambu
ini kalau dari segi nada tidak jauh beda dengan biola modern pada umumnya,
menggunakan nada doremi dan menggunakannya pun sama. Namun mempunyai tingkat
kesulitannya lebih tinggi dari biola modern biasanya karena menyesuaikan nada
yang keluar dari biola bambu tersebut. Dan biola bambu tidak bisa dibentuk
sesuai keinginan karena sudah mempunyai bentuk dan ruang tersendiri. “ Bambu
ini beda dengan kayu yang bisa kita bentuk seperti keinginan kita. Makanya
bahan yang digunakan oleh pemainnya.” Ungkap Abah.
Seiring
waktu berlalu secerca sinar mentari harapan pun menyongsong impian-impian lain
yang abah inginkan untuk bisa membuat alat musik lainnya dari bambu sehingga
bisa melestarikan bambu. Abah dan kawannya Adang Muhidin ( 40 ) membentuk komunitas
pencinta bambu yang diberi nama IBS ( Indonesia Bamboo Society ) yang launching
11 November 2011. IBS ( Indonesia Bamboo Society ) dilatarbelakangi karena
banyaknya bambu di Indonesia yang begitu melimpah namun kebanyakan kurang
dimanfaatkan dan hanya dipakai sebagai kayu bakar, selain itu setiap alat musik
mempunyai ruang sehingga bambu adalah bahan yang tepat karena bambu sudah
mempunyai ruang tersendiri sehingga memudahkan.
Abah di IBS
( Indonesia Bamboo Society ) sendiri sekarang yang menjabat sebagai penasehat
dan Adang Muhidin sebagai Presiden IBS ( Indonesia Bamboo Society ) berharap dengan
adanya komunitas bamboo ini bisa menjadi salah satu komunitas musik yang tetap
menjaga kelestarian alam khususnya bambu, dan alat musik yang dibuat berfokus
pada alat musik modern, alasannya karena dengan menciptakan alat musik modern
dari bambu diharapkan peminatnya para generasi muda sehingga alat musik bambu
ini berumur panjang. Saat ini sudah banyak alat musik dari bambu yang sudah
dibuat seperti suling, seksofon, gitar, dan alat perkusi lainnya. Cita dan
harapan selalu tersenyum di mulut abah yang disebarluaskan untuk generasi muda
sehingga tak akan lekang oleh masa yang berawal dari biola yang rusak menjadi
sesuatu yang besar dalam melestarikan bambu.











